Angkringan (berasal dari bahasa Jawa ' Angkring ' yang berarti duduk santai) adalah sebuah gerobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Solo dikenal sebagai warung hik ("hidangan istimewa a la kampung")
Latest News

Kopi Mengkudu, Kopi Lezat Berkhasiat Non Kafein

Saturday, June 26, 2010 , Posted by Blog-QuDeWe at 12:00 AM

Sampang_Di tangan Gunarsi (45), Guru SDN Polagan 2 Sampang, buah mengkudu bisa menjadi bubuk yang ia sebut sebagai kopi mengkudu. “Aromanya sangat khas. Rasanya tak kalah nikmat dengan kopi biasa. Bahkan, kopi mengkudu ini bisa sebagai obat yang cukup mujarab menyembuhkan penyakit darah tinggi maupun kencing manis,” ujar Gunarsi.

Bagi sebagian orang, minum kopi dipercaya dapat menghilangkan penat saat beraktifitas. Namun, tahukah anda bahaya kafein yang dikandungnya?. Kini, anda bisa mencoba varian baru yakni kopi mengkudu. Disamping tidak mengandung kafein, kopi mengkudu diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit.
Awalnya, Gunarsi mengonsumsi buah mengkudu untuk mengobati penyakit asma yang dia derita. Biasanya buah mengkudu itu ia jadikan rujak, yakni dipotong-dipotong, diberi sambal, kemudian langsung dimakan. Karena bosan dengan olahan yang itu-itu saja, Gunarsi mencoba mengolah buah mengkudu itu menjadi semacam kopi bubuk.

Ibu empat orang anak itu menuturkan, cara mengolah kopi mengkudu sangat gampang dan sederhana. Buah yang masih setengah matang dan berwarna putih diiris kecil-kecil. Hasil irisan itu lalu dijemur di bawah terik matahari selama 3 hari, agar benar-benar kering.

Tahap selanjutnya, irisan yang sudah kering itu disangrai beberapa menit, seperti layaknya menyangrai biji kopi. Setelah disangrai, baru digiling sehingga menjadi bubuk.

“Setelah menjadi bubuk, kopi tersebut diseduh dengan air panas dan siap dihidangkan. Rasanya ya seperti kopi, tapi aromanya berbeda,” kata Gunarsi.
Ternyata, tidak hanya Gunarsi dan keluarganya yang menyukai kopi mengkudu. Para tetangganya pun menyukai kopi mengkudu buatan Gunarsi. Berawal dari situ, akhirnya Gunarsi membuat kopi mengkudu lebih banyak dari kebutuhannya sendiri. Ia kemas kopi mengkudu itu dalam bentuk sachet dengan merek Pandawa Lima dan ia jual dengan harga Rp 1.000/sachet.

“Saya hanya menjual kepada para tetangga sekitar atau pesanan dari daerah lain, yang mengetahui produksi kopi mengkudu tersebut dari mulut ke mulut. Bahkan, saya juga mendapat pesanan dari orang Bandung,” tutur Gunarsi, yang berasal dari Kediri itu. 

Menurut dia, produksi kopi mengkudu itu memang belum dia lempar ke pasaran secara luas, karena belum terdaftar di Departemen Kesehatan maupun Departemen Perdagangan dan Perindustrian (Deperindag).
Produksinya pun belum banyak, dalam sehari ia hanya mampu memproduksi 1,5 kg. Selain itu, kopi mengkudu buatan Gunarsi itu tahan hanya dua bulan, karena tanpa bahan pengawet.

“Kami terbentur modal, serta tidak tahu bagaimana cara memasarkan produksi kopi mengkudu tersebut, sehingga kami hanya mengembangkan ala kadarnya,” ungkap Gunarsi.
Tak Punya Modal, Bingung Cara Mengembangkan

Khasiat buah mengkudu (Morinda citrifolia L) sudah tidak diragukan lagi. Terbukti, buah berbau tajam ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai gangguan kesehatan. Dalam perjalanannya, mengkudu mulai diolah dalam berbagai macam produk. Mulai dari jus sampai tablet mengkudu berupa kapsul. Bahkan, bisa dibuat sampo, sabun, dan body lotion. Sementara di Sampang, mengkudu diolah menjadi kopi. Bagaimana pembuatannya?

Irisan buah mengkudu yang mulai mengering berjejer di samping rumah Ibu Gunarsi, 45. Irisan tersebut sengaja dijejer dan diletakkan di bawah sinar matahari supaya benar-benar kering. Pemandangan seperti itu bisa dijumpai setiap hari di rumah sederhana yang berada di Jalan Rajawali Gg I, Kec Kota Sampang tersebut.

Penjemuran irisan buah Mengkudu tersebut merupakan salah satu tahapan untuk membuat kopi mengkudu. Gunarsi mengaku sudah dua tahun membuat kopi dari buah mengkudu. Sehari-hari, ia mengaku dibantu kedua anaknya dan untuk sementara hanya mampu memproduksi 25 kilogram kopi mengkudu.

Maklum, selain prosesnya yang membutuhkan waktu cukup panjang, dirinya mengaku kesulitan modal dalam mengembangkan usahanya tersebut. Padahal, menurut dia, pembelinya tidak hanya datang dari Sampang saja tetapi mulai berdatangan dari kabupaten lain.

"Selain dari Sampang, ada juga pembeli yang datang dari Kabupaten Pamekasan. Biasanya, pembeli mengetahui kopi mengkudu buatan kami dari konsumen yang sudah membeli dan merasakan khasiat kopi mengkudu," terang Gunarsi kepada wartawan koran ini.

Mengenai pembuatannya, Gunarsi mengatakan cukup sederhana. Pertama memilih mengkudu yang benar-benar matang dan kemudian diiris tipis-tipis agar mengkudu bisa lebih cepat kering saat dijemur. Setelah kering, Mengkudu tersebut disangrai. Itu dilakukan seperti menyangrai biji kopi. Setelah matang dan berwarna hitam, lalu ditumbuk hingga menjadi serbuk.

"Dari awal hingga siap konsumsi, biasanya membutuhkan waktu selama empat hari. Sebab, proses pengeringannya kan bergantung cuaca," ungkap Wahyu, salah satu putra Gunarsi.

Gunarsi mengaku kesulitan mengembangkan usaha yang dianggapnya potensial tersebut. Maklum saja, wanita paruh baya tersebut mengaku tidak memiliki koneksi untuk mengembangkan usahanya tersebut. "Selain persoalan modal, kami juga tidak tahu harus minta bantuan ke dinas mana. Jadi, kami kelola secara konvensional," tuturnya.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sampang Eny Muharjuni yang dikonfirmasi mengaku siap memfasilitasi kendala yang dihadapi Gunarsi tersebut. Buktinya, Eny langsung memerintahkan stafnya untuk segera meninjau home industry pembuatan kopi mengkudu tersebut.

"Ini sangat potensial. Selain manfaat buah mengkudu sudah dikenal banyak orang, penyajian dalam bentuk kopi bisa menjadi daya tarik tersendiri. Kami siap memfasilitasi baik dari segi permodalan, pengembangan, maupun manajemen," ungkap Kabid Pemberdayaan Usaha Koperasi dan UKM Choirul Anwar.

Choirul menambahkan, pihaknya juga akan membantu pengurusan SIUP (surat izin usaha perdagangan), TDP (Tanda Daftar Perusahaan), TDI (Tanda Daftar Industri). Termasuk, membantu pengurusan izin kesehatan ke dinas terkait. "Sebab, mengkudu ini disajikan dalam bentuk minuman kan? Tentunya, harus mengantongi izin kesehatan," pungkasnya.

Anda penggemar kopi?. Bagi sebagian orang, minum kopi dipercaya dapat menghilangkan penat saat beraktifitas. Namun, tahukah anda bahaya kafein yang dikandungnya?.  Kini, anda bisa mencoba varian baru yakni kopi mengkudu. Disamping tidak mengandung kafein, kopi mengkudu diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Berawal dari kebingungan akibat melimpahnya buah mengkudu yang tumbuh di sekitar pekarangan rumah milik Halimah serta anaknya Wahyu hidayat. Warga kelurahan Karang Dalam Kecamatan Kota Sampang ini mencoba meracik buah mengkudu menjadi minuman kopi yang bercita rasa khas.

Saat pertama kali mencoba, mengkudu dipetik dari pohon yang tumbuh di sekitar pekarangan rumah. Yakni, dipilih mengkudu yang paling tua atau hampir matang.

Buah mengkudu kemudian dipotong kecil-kecil dan dijemur. Proses penjemuran memakan waktu tiga sampai empat hari. Karena buah mengkudu mengandung kadar air yang cukup banyak.

Potongan buah mengkudu yang sudah kering kemudian disangrai hingga garing dan menghitam. Lalu ditumbuk hingga halus.

Tumbukan buah mengkudu kemudian diayak sehingga dihasilkan bubuk kopi mengkudu yang halus.

Bagi Ahmad Sali, salah seorang penikmat kopi mengatakan, kopi dari buah mengkudu terasa enak diperut. Tidak seperti kopi lainnya yang kadang bikin perut kembung. Bahkan, lanjut Sali, kopi mengkudu bisa melancarkan pencernaan.

“Beda rasanya Mas. Kalau kopi biasa kan efeknya bisa membawa kembung. Tapi ini beda, terasa enak sekali saat berada di perut,” katanya.

Halimah mengaku, dirinya memilih menjadikan buah mengkudu sebagai minuman kopi karena selama ini buah mengkudu hanya dijadikan jus dan kurang diminati warga. Padahal, buah mengkudu dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti asma, lemah jantung dan mengurangi tekanan darah tinggi.

“Khasiat dari mengkudu ini yang oleh orang tidak diketahui. Padahal banyak sekali manfaatnya untuk menyembuhkan penyakit,” ungkapnya.

Halimah dan Wahyu juga mengemas bubuk kopi mengkudu ke dalam plastik ukuran kecil 20 gram. Ini dilakukan setelah banyak tetangganya yang ketagihan dengan kopi mengkudu. Halimah menjual kopi mengkudu Rp 2 ribu per plastik.
(fn/vs/jp/bt/klik pada okezone.com) www.suaramedia.com

Currently have 0 comments:

Leave a Reply

Post a Comment